Bisnis kosmetika di Indonesia makin pesat tiap tahunnya. Dengan begitu besarnya jumlah penduduk di Indonesia, bertambahnya kelompok masyarakat menengah, kebutuhan untuk tampil selalu cantik, kemudahan berusaha yang semakin baik di Indonesia serta kemajuan dunia digitalnya, membuat industri kosmetika juga semakin gurih untuk dinikmati semua kalangan.

 

Bisnis individu, UKM, dan perusahaan mapan mendapatkan kesempatan yang sama. Anda berminat mencobanya? Sekarang saat yang tepat untuk memulai bisnis kosmetika. Bagaimana cara memulainya? Saya akan menjelaskan langkah-langkahnya untuk Anda

Kosmetik terdiri dari kategori  Skin Care, Decorative (make up), Fragrance (parfum, deodorant), dan Hair Care. Anda ingin mulai kategori yang mana?

 

Sedangkan skin care secara umum terdiri dari Face Care dan Body Care. Dari sediaan skin care terdiri dari topikal (oles, luar tubuh), injeksi (filler, botox), oral (suplemen seperti pil  atau tablet) dan aesthetic devices. Dilihat dari jenisnya, Anda bisa melihat marketnya yaitu market khalayak umum dan health care professional (dokter kulit, estetik). Jika Anda ingin berdiskusi lebih jauh tentang market ini silakan ngobrol langsung denga Verra di sini.

Sudah siap? Berikut langkah-langkah memulai bisnis kosmetik sendiri.

1. Ide Produk

 

Anda bisa mulai dari masalah diri sendiri. Seorang wanita bernama Jamie Kern Lima seorang penyiar televisi memiliki masalah kulit rosacea, kondisi kulit kemerahan. Di mana dengan kondisi kulit seperti itu, dia membutuhkan make up yang dapat menutupi kemerahan sehingga tampil flawless di depan kemara. Karena kesulitan mendapatkan produk untuk kondisi ini, dia membuat sebuah produk concealer “Bye Bye Under Eye” , satu produk akhirnya yang mengubah hidupnya. Produknya begitu booming karena mendapat sambutan luar biasa oleh para wanita yang ternyata memiliki masalah yang sama. Dan pada tahun 2016, perusahaannya dibeli oleh L’Oreal dan menjadikan Jamie wanita pertama yang menjabat CEO di perusahaan berusia lebih dari seratus tahun itu.

 

Selain dari kebutuhan diri sendiri, ide bisa didapat dari riset seperti melalui google trend, social media, thread, market place atau informasi dari lingkungan sekitar Anda. Adakah pain point, hal yang tidak dapat dipenuhi oleh suatu brand tertentu.   Gap ini dapat menjadi sebuah ide produk.

 

 

2. Riset Pasar dan Kompetitor

Riset ini dilakukan untuk memvalidasi ide. Riset di lakukan untuk memastikan kebutuhan atau masalah itu ada, marketnya ada, kompetisi dengan siapa. Jika belum ada satupun kompetitor, perlu dipertanyakan kenapa belum ada satupun yang memulai produk ini. Atau jika pernah ada dan gagal, mengapa. Pada riset ini Anda akan menentukan target konsumen Anda, segmentasi, dan kompetitor. Data-data ini nantinya juga akan Anda jadikan bahan menyusun profil brand.

  

Setelah Anda yakin kebutuhan dan marketnya ada, selanjutnya adalah Product Development.

 

3. Product Development

 

Pada tahapan ini, Anda akan memikirkan bagaimana produk Anda akan dibuat, produksi sendiri atau maklon. Jika Anda baru memulai, maklon adalah cara yang bijak, karena Anda tidak perlu membuat sendiri namun menyerahkan ke perusahaan yang memiliki jasa maklon. Pilih perusahaan dengan portofolio yang baik.

 

Pada product development ini, Anda akan menentukan pemilihan zat aktif,  fakta pendukung efektifitas zat aktif (jika diperlukan), pemilihan kemasan, pencantuman nama brand, menentukan nama produk, bodytext, dan lain-lain. Yang kesemuanya disesuaikan dengan profil konsumen Anda.

  

4. Brand Strategy

 

Brand, tidak semata-mata logo dan tagline yang keren, namun citra bagaimana produk Anda ingin dipersepsikan oleh konsumen, untuk siapa dan mengapa konsumen memilih brand Anda. Besar kecil bisnis Anda, strategi brand adalah hal yang utama. Mengapa penting? Klik 9 Alasan Mengapa Membangun Brand itu penting.

 

Logo, anda dapat develop dengan bantuan desainer yang berpengalaman. Dan pastikan Anda mendaftarkan brand Anda. Anda bisa mendaftarkannya sendiri, caranya di sini.  

5. Marketing Plan

 

Keberhasilan produk, ditentukan dari profil brand yang solid,  diintegrasikan dengan marketing mix yang tepat sasaran dan dieksekusi di waktu yang tepat. Marketing Mix terdiri dari 5 P yaitu Product, Place, Price, Promotion dan satu lagi yang tak kalah penting adalah People.

 

 6. Siapkan Audience

Salah satu kunci sukses peluncuran produk adalah ketika sudah memiliki audience. Audience ini merupakan orang-orang yang sesuai persona target konsumen. Mereka memiliki interest yang sama dengan nilai-nilai brand. Jadi sebelum peluncuran, sebaiknya ciptakan audience sebanyak-banyaknya melalui instagram, facebook, atau blog dengan konten-konten berkualitas terkait zat aktif produk, gaya hidup, dan lain-lain. Ketika sudah memiliki audience, peluncuran produk akan lebih cepat menghasilkan sales.

7. Pemilihan Distributor dan Model Bisnis

Anda membutuhkan distributor atau tidak tergantung dari model bisnis yang Anda inginkan. Apakah produk hanya akan dijual melalui online (website, social media, market place) saja ataukah ke retailer juga? Jika Anda ingin produk Anda menjangkau retailer (toko) di seluruh Indonesia atau kota-kota pilihan, maka Anda membutuhkan distributor yang berpengalaman di bisnis kosmetik, kemudahan cara pembayaran, coverage serta track record yang baik. 

Know What You Don’t Know.

Entreprenuer cenderung melakukan semua sendiri karena mungkin sangat antusias. Padahal setiap orang memiliki keahlian dan spesialisasinya sendiri. Agar bisnis berjalan optimal, seorang entrepreneur akan menyadari area mana yang memerlukan bantuan dari orang lain, sehingga dia dapat fokus hal yang lebih besar dan membutuhkan keputusan besar. Jangan ragu untuk meminta bantuan konsultan dalam mewujudkan bisnis Anda.


Leave a Reply

error: Content is protected !!